JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL - UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

  • Sungai Anteseden Oyo

  • DAM BOD

    Dam BOD yang terletak di dusun Bronggang terpenuhi oleh material piroklastik vulkan Merapi pada letusan tahun 2010.

  • Sungai Suci

    Observasi aliran sungai Suci yang merupakan sungai allogenik pada sistem karst Gunungsewu.

  • Puncak Nglanggeran

    Singkapan batuan Nglanggeran merupakan sisa vulkan purba yang terletak pada formasi Nglanggeran.

  • Parangtritis

    Pantai Parangtritis yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan pariwisata di Yogyakarta.

  • Candi Prambanan

    Candi Prambanan dilihat dari puncak bukit Boko.

Gempa Terkini

banner ads
Klik untuk info detail gempa
Sumber: bmkg.go.id

Tutupan Awan

banner ads
Klik untuk info detail tutupan awan
Sumber: bmkg.go.id

Arah Angin Hari Ini

banner ads
Klik untuk info detail arah angin
Sumber: bmkg.go.id

Asal Pengunjung

Locations of visitors to this page

We have 13 guests and no members online

Paradigma Penelitian Kualitatif & Kuantitatif

Paradigma adalah seperangkat asumsi tersurat dan tersirat yang menjadi gagasan-gagasan ilmiah (Ihalauw, 2004). Lebih lanjut dijelaskan bahwa paradigma bukan masalah salah atau benar, melainkan lebih memberikan manfaat atau kurang bermanfaat sebagai sebuah cara pandang terhadap sesuatu. Perbedaan anatar kualitatif dan kuantitatif ini dibedakan oleh paradigma yang masing-masing menjadi kesepahaman para ahli-ahli pengikutnya. Banyak tulisan telah membahas apa-apa saja yang membedakan antara keduanya. Salah satunya disajikan pada Tabel di bawah ini. 

 
 

Asumsi

Pertanyaan

Kuantitatif

Kualitatif

Ontologis

Apa realitas?

Obyektif, tunggal, terpisah dari peneliti

Subyektif, ganda, seperti yang dilihat penelti

Episto-mologis

Hubungan peneliti dengan objek?

Peneliti independen

Peneliti berinteraksi dengan yang diteliti

Aksiologis

Peranan nilai ?

Bebas nilai dan tidak bias

Terikat nilai dan bias

Retorik

Bahasa penelitian?

·  Formal;

·  melibatkan seperangkat definisi

·   Informal;

·   melibatkan keputusan-keputusan

Metodologis

Proses penelitian?

·Deduktif;

·Hubungan sebab akibat;

·Rancangan statis;

·Bebas konteks;

·Generalisasi yang mengarah prediksi, eksplorasi, pemahaman;

·Akurasi & reliabel lewat uji

·   Induktif;

·   Faktor terbentuk secara silmutan timbal balik;

·   Rencana berkembang;

·   Terikat konteks;

·   Pola & teori untuk pemahaman;

·   Akurasi & reliabel lewat pembuktian

Sumber : Modifikasi Cresswel, 2000 dalam Slamet 2006

  Berdasarkan tabel tersebut jelas sekali adanya perbedaan pandangan yang saling berlawanan antara paradigma kualitatif dan kuantitatif. Menurut Ihalauw (2004), antara kualitatif dan kuantitatif memiliki susbstansi pendekatan ilmiah yang bertolak belakang. Paradigma kuantitatif bersifat deduktif, yaitu pada ranah abstrak merupakan telaah teoritis, penalaran, perenungan, dan pengalaman untuk mengukur konsep dan menguji dalil atau teori pada ranah empirik. Sebaliknya paradigma kualitatif bersifat induktif, yaitu pada ranah empirik melakukan amatan terhadap fakta atau peristiwa untuk membentuk dan  memodifikasi dalil serta menata dalil menjadi teori pada ranah abstrak. Secara lebih sederhana Yunus (2009) membedakan bahwa penelitian berparadigma kualitatif menekankan pada proses, sedangkan penelitian berparadigma kuantitatif menekankan pada produk. Sekali lagi, pandangan tersebut memberi gambaran tegas perbedaan antara kualitatif dengan kuantitatif

 Difinisi paradigma di atas menyebutkan bahwa paradigma memberikan pandangan lebih bermanfaat atau kurang bermanfaat. Paradigma akan mempengaruhi pandangan seseorang atau komunitas apa yang adil atau tidak adil, apa yang baik dan tidak baik (Fakih, 2002). Lebih lanjut ditegaskan bahwa melalui paradigma akan ada dua orang atau komunitas melihat suatu realitas sosial yang sama, akan menghasilkan pandangan, penilaian, dan sikap yang berbeda. Dengan demikian jelas sekali bahwa paradigma sangat berpengaruh terhadap teori dan analisis yang dianut seseorang atau komunitas dalam mengambil kebijakan dan keputusan.

 Habermas membagi paradigma  ilmu sosial menjadi tiga yaitu instrumental knowledge, hermeneutic knowledge,  dan critical/emancipatory knowledge (Fakih, 2002). Instrumental knowledge berakar pada paham positivisme yang berpandangan bahwa ilmu sosial dikembangkan dari pandangan, metode, dan teknik ilmu alam dalam memahami realitas. Dalam rangka memahami objektivitas atas realitas sosial dalam metode ilmiah, maka harus dipisahkan antara fakta dengan nilai. Pandangan instrumental knowledge ini termasuk dalam paradigma kuantitatif. Aplikasi dalam kehidupan sosial kita sangat nyata, yaitu banyak kehidupan berinstrumen pada angka-angka yang dianalisis secara statistik. Misalnya untuk mengukur kepandaian seseorang diukur dari nilai raport, nilai ujian nasional, indeks prestasi. Kebijakan pemerintah dalam mengukur keberhasilan pembangunan juga didasarkan pada angka-angka, seperti pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, indek kesejahteraan dan lainnya, tidak terkecuali penelitian-penelitian ilmiah bidang sosial yang banyak dilakukan oleh perguruan tinggi.

Sementara itu hermeneutic knowledge  dan critical/emancipatory knowledge ini masuk dalam paradigma kualitatif. Seringkali Hermeneutic knowledge  disemboyankan dengan “biarlah fakta berbicara atas nama dirinya sendiri” (Fakih, 2002). Sementara critical/emancipatory knowledge dipahami sebagai proses untuk memanusiawikan manusia, sehingga dalam analisis suatu kajian ilmiah harus berpihak kepada perbaikan kehidupan manusia.

Pada dasarnya paradigma kualitatif melihat bahwa realitas sosial harus dipahami dari ilmu sosial dan keberpihakan pada manusia, bukan seperti paradigma kuantitatif yang melihat realitas sosial dengan pendekatan ilmu alam. Dalam fakta kehidupan saat ini paradigma kuantitatif jauh lebih mewarnai daripada paradigma kualitatif. Realitas soaial hasil kajian paradigma kuantitatif juga bisa disaksikan dalam kehidupan kita. Akan tetapi, untuk ketiga kalinya dalam tulisan ini menyebutkan penjelasan paradigma, bahwa paradigma memberikan pandangan lebih bermanfaat atau kurang bermanfaat. Antara paradigma kualitatif dan kuantitatif, mana yang lebih bermanfaat bagi khususnya ilmu sosial ? Pendekatan apa yang tepat untuk mengkaji dan memahami anarkisme dalam masyarakat, ketimpangan kesejahteraan,  adaptasi masyarakat terhadap bencana, patologi sosial, dan banyak lagi permasalahan sosial kemasyarakatan dalam ruang muka bumi ?

Kiranya sudah saatnya mengarusutamakan penelitian paradigma kualitatif pada skripsi mahasiswa, tidak terkecuali bidang geografi yang bernaung di bawah ilmu sosial. Visi dan misi pendidikan tinggi abad XXI dari UNESCO (1998) berintikan isi laporan The International Commission on Education for the Twenty-first Century (Learning:the Treasure Within) yang diketuai oleh Jacques Delors (UNESCO, 1998)2), pada pokok “Harapan ke depan peran pendidikan tinggi” poin c menyatakan bahwa orientasi dari pertumbuhan ekonomi ke pengembangan kemanusiaan (Tim Direktorat Akademik, 2008). Diakui atau tidak paradigma kualitatif lebih menyentuh pengembangan kemanusiaan pada kajian ilmu sosial.

Perlu penegasan juga, bahwa sepemahaman penulis, dalam kajiannya ilmu geografi tidak pernah menentangkan antara paradigma kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini perlu diluruskan karena ternyata masih ada yang berpandangan bahwa geografi dalam kajiannya berpegang pada paradigma kuantitatif. Pada geomorfologi yang menjadi domain utama geografi fisik,  paradigma kualitatif maupun kuantitatif menyatu menjadi bagian dari aspek analisisnya. Dalam ilmu ini dikenal adanya aspek morfologi, yaitu mendiskripsikan bentuk muka bumi yang meliputi morfografi dan morfometri. Morfografi mendiskripsikan komposisi dan kondisi bentuklahan secara kualitatif seperti kipas aluvial, dataran banjir, kerucut gunungapi, dan lain-lain, sementara morfometri mendiskripsikan tentang kondisi bentuklahan secara kuantitatif seperti kemiringan lereng, tingkat percabangan sungai, besaran longsorlahan, dan lain-lain. Demikian juga dalam kegiatan interpretasi foto udara, interpretasi citra satelit, interpretasi peta, hal tersebut jelas berparadigma kualitatif. Apalagi dalam geografi manusia yang banyak membahas tentang hubungan kemasyarakatan dalam ruang muka bumi serta hubungan kemasyarakatan dengan lingkungannya dalam ruang muka bumi. Yang paling penting adalah mengenalkan kedua paradigma tersebut secara luas, supaya dapat menumbuhkan kreativitas dalam penelitian termasuk skripsi dan tentunya penelitian yang lebih memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pustaka

Tim Direktorat Akademik, 2008. Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi (Sebuah alternatif penyusunan kurikulum). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta

 Fakih, M., 2002. Jalan Lain (Manifesto Intelektual Organik). Insist Press, Yogyakarta

 Ihalauw, J. J. O. I., 2004. Bangunan Teori. Satya Wacana University Press, Salatiga

 Slamet, Y., 2006. Metode Penelitian Sosial. Universitas Sebelas Maret Press, Surakarta

 Yunus, H.S., 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 

 

 

Alamat Kampus :

Kampus UNESA Ketintang
Jl. Ketintang No 1 - Ketintang 
Wonokromo - Surabaya 60321
Telp. 031 - 8280009 Psw. 402

Kontak / Informasi :

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Administrator Web :

Tri Joko Martono, Sukma Perdana, Bambang Sigid Widodo, Eko Budiyanto, Nugroho Hari Purnomo